Selamat Datang di Dunia Analisa Ekonomi

Minggu, 03 Mei 2009

Flu Babi Ancam Pemulihan Krisis Ekonomi Global

Sejarah Singkat Flu Babi

Penyakit influensa babi  (swine flu) pertama kali dilaporkan terjadi pada tahun 1918-1919 yang mana pada saat itu didunia sedang mengalami pandemik wabah penyakit flu yang menelan korban hingga 50 juta jiwa [sumber : 1918 Influenza: the mother of all pandemics]. Dan dari sumber Hampson A pada “Influenza-Dealing with a continually emerging disease” [hal 212-216] disebutkan bahwa dari pandemik flu tersebut sekitar 21 juta jiwa meninggal karena flu babi pada saat itu.

Kasus “bangkai flu” tersebut terjadi pada akhir musim panas 1918 di daratan Eropa dan meluas ke Amerika.  Di daratan Eropa flu ini dikenal sebagai Spanish Flu (Flu Spanyol). Pada tahun yang sama dilaporkan terjadi wabah penyakit epizootik pada babi di Amerika tengah bagian utara yang mempunyai kesamaan gejala klinis dan patologi dengan influensa pada manusia. Karena kejadian penyakit ini muncul bersamaan dengan kejadian penyakit epidemik pada manusia, maka penyakit ini disebut  flu pada babi. Para ahli kesehatan hewan berpendapat bahwa penyakit babi ini ditularkan dari manusia. Perlu dicatat bahwa pandemik flu pada tahun 1918-1919 menyerang 1/3 penduduk dunia (sekitar 500 juta jiwa) dan menewaskan sekitar 3.3% penduduk yakni 50 juta jiwa.

Selain di negara Amerika Serikat, wabah influensa babi dilaporkan terjadi di berbagai negara Canada, Amerika Selatan, Asia dan Afrika pada permulaan tahun 1968. Sementara itu, di Eropa influensa babi diketahui pada tahun 1950-an, melanda negara Cekoslovakia. Pada tahun 1957, pandemic flu Asia melanda 45 juta orang Amerika dan menewaskan 70.000 orang. Secara global hal ini menyebabkan sekitar 2 juta orang. 11 tahun kedepan, 1968-1969, pandemik flu Hongkong menginfeksi  50 juta orang Amerika dan menewaskan sekitar 33.000 orang dan kerugian lebih dari USD 3.9 miliar.

Setelah itu, virus menghilang untuk sementara waktu sampai muncul kembali wabah tahun 1976 di bagian Itali, yang kemudian menyebar ke Belgia dan bagian selatan Perancis pada tahun 1979. Sejak itu dengan cepat penyakit menyebar ke negara Eropa yang lain.

Sejak Edgar Hernandez, bocah kecil Meksiko berumur 5 tahun yang menjadi manusia pertama yang terjangkit virus flu babi di abad ke-21 telah menewaskan ratusan orang dan menyebar di empat benua. Kasus flu babi tersebut ditemukan pada 2 April 2009. Di Meksiko, episentrum penyebaran, hingga tadi malam 152 orang diyakini meninggal akibat mengidap flu babi dan lebih dari 1.600 orang diduga membawa virus berbahaya tersebut. Di luar Meksiko, sedikitnya 16 negara melaporkan adanya kasus infeksi virus flu babi, baik yang sudah dikonfirmasi maupun belum.

Pada tanggal 29 April 2009, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meningkatkan status wabah flu babi menjadi “fase 5″. Ini artinya status flu babi berada satu tingkat di bawah level tertinggi pandemic virus global. Direktur Jenderal badan PBB itu, Margeret Chan mengatakan, jika dikeluarkan keputusan untuk menaikkan status menjadi “fase 6″ atau yang tertinggi, maka seluruh negara harus “secepatnya” mengaktifkan rencana persiapan pandemic sebagai wabah penyakit global.

Dengan melihat perkembangan flu yang begitu cepat, sangatlah mungkin dunia saat ini dapat terjeremus kedalam “masa pandemik” yakni masuk dalam fase 6 pandemik. Jika saja pandemik global ini terjadi, maka negara-negara miskin dan berkembang akan memiliki dampak terbesar yakni kematian. Karena dapat dipastikan bahwa tingkat penanggulangan oleh negara maju akan lebih baik dibanding dengan negara berkembang yakni Indonesia salah satunya. Asumsi ini muncul karena meskipun flu burung yang sempat melanda dunia yang berasal dari China, namun Indonesia menjadi negara yang mengalami kasus terbanyak flu burung di dunia.

Dampak terhadap Ekonomi Makro

Flu babi dikhawatirkan akan mengganggu perekonomian dunia. Flu babi menjadi ancaman bagi dunia apabila penyakit ini mengarah menjadi pendemik. Berbagai macam pendemik flu telah menorehkan imbasnya pada perekonomian dunia. Analisis World Bank pada tahun 2008, mengenai  flu “Spanyol” pada tahun 1918 yang menunjukkan terjadinya penurunan produk domestik bruto (PDB) sebesar 4,8% pada saat tahun pertama terjangkitnya flu ini.

Pendemik flu “Asia” telah memangkas produk domestik bruto dunia sebesar 2%, begitu pula pendemik flu “Hong Kong” menurunkan kurang dari 1%. Wabah seperti ini sangat mengancam beberapa sektor usaha, apalagi negara yang mengandalkan sektor pariwisatanya. Beberapa sektor yang kemungkinan terancam antara lain ritel, perhotelan dan penerbangan, rumah makan atau restoran, transportasi massal, dan perbelanjaan.

Dikutip dari cnn.com, “Kita sudah melakukan penilaian risiko yang kemungkinan terjadi di Macau, dan kita menemukan risiko ekonomi yang sangat besar,” kata CEO International Risk steve Vickers.

World Bank memprediksikan dampak perekonomian yang akan terjadi, antara lain kerugian ekonomi karena terjadinya kematian, terjadinya ketidakhadiran kerja, dan perilaku untuk menghindari penyakit ini. Hal ini akan mengakibatkan berkurangnya kunjungan (wisatawan), berkurangnya kunjungan ke tempat perbelanjaan atau tempat umum yang menarik orang banyak.

Plt Menko Perekonomian/Menkeu Sri Mulyani Indrawati memperkirakan, dampak wabah flu babi terhadap perekonomian akan seperti dampak pandemi SARS yang pernah mewabah beberapa tahun lalu.

“(Dampak kepada perekonomian) sama seperti SARS, pada bulan-bulan pertama akan ada situasi yang dianggap mencekam sehingga ada dampak pada jumlah orang bepergian terutama pada negara sumbernya,” katanya usai berbicara pada workshop tentang infrastruktur di Gedung AA Maramis Depkeu Jakarta, Selasa (28/4).

Menurutnya, potensi dampak pandemi atau pandemi penyakit itu harus diwaspadai namun biasanya negara-negara maju memiliki mekanisme yang cukup memadai untuk mengatasi masalah itu. “Dampak untuk ind saat ini tergantung perkembangan situasi endemi atau pandemi ini. Sikap pemerintah adalah prepare for the worst,” katanya. Menurutnya, dari sisi mekanisme untuk menangani flu babi, flu babi lebih mirip SARS daripada flu burung yang berarti berhubungan dengan lalu lintas manusia. “Maka langkah yang dilakukan adalah menjaga keamanan, membuat prosedur termasuk membuat peralatan untuk memonitor penumpang yang keluar-masuk ke Indonesia,” katanya.

Flu babi yang menular ke manusia berpotensi berkembang di Indonesia. Namun, hampir dapat dipastikan keganasan flu babi Meksiko di bawah flu unggas yang telah mewabah di Indonesia. Kepala Laboratorium Flu Unggas Universitas Airlangga CA Nidom mengatakan, flu babi sebenarnya sudah lazim. Penyakit dengan virus H1N1 di Indonesia sudah ada sejak dulu. Subtipe di Indonesia atau H1N1 klasik tidak berbahaya. “H1N1 tipe Meksiko yang dikenal sebagai flu babi sekarang inilah yang berbahaya,” katanya di Surabaya, Selasa (28/4).

Berdasarkan riset Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, H1N1 tipe Meksiko diduga kuat gabungan flu unggas, flu babi, dan flu manusia. Virus kemungkinan berubah di tubuh babi. “Sejak 2005, saya sudah melontarkan hipotesis ini. Saya sudah khawatir ini bakal terjadi. Akhir tahun lalu saya kembali mengingatkan potensi bahaya ini. Namun, sebagian kalangan masih menentang,” ujarnya. Virus yang berubah di tubuh babi lebih mungkin menular ke manusia. Pasalnya, manusia dan babi sama-sama mamalia yang cenderung memiliki kesamaan. Sebaliknya, flu unggas tidak bisa langsung ke manusia. “Secara teoretis, virus di unggas tidak bisa langsung ke mamalia seperti manusia. Harus ada perantara mamalia lain dan itu kemungkinan besar babi,” katanya. Di tubuh babi, virus mengalami perubahan dengan dua pola. Pola pertama berupa adaptasi. “Kalau ini terjadi, dampaknya tidak terlalu berbahaya karena tidak ada perubahan struktur virus,” ujarnya.

Pola kedua berupa penyusunan ulang virus. Berdasarkan pola ini, virus bisa berkembang menjadi gabungan flu babi, flu unggas, dan flu manusia. “Jika menyimak penjelasan di AS, ada kemungkinan reassortan (penyusunan ulang),” ujarnya.

Jika hal itu terjadi, tidak tertutup kemungkinan flu babi bisa berkembang di Indonesia. Salah satu pendukungnya adalah banyaknya peternakan ayam dan babi yang berdekatan. “Sejak flu unggas merebak, saya sudah mengemukakan pentingnya menata ulang peternakan,” tuturnya.

Namun, di sisi lain, keganasan H1N1 tipe Meksiko tidak seperti H5N1. Dari sekitar 1.500 kasus di seluruh dunia, baru 150 berakhir dengan kematian. “Virus ini cepat menyebar, tetapi daya rusaknya rendah. Sebaliknya H5N1 lambat menyebar. Namun, daya rusaknya amat tinggi,” ujarnya.

Kurang dari sebulan, H1N1 tipe Meksiko sudah menjangkiti ribuan orang. Sementara dalam tiga tahun, kasus H5N1 hanya tercatat sekitar 300 kasus di seluruh dunia. “Saya khawatir kalau hasil penyusunan ulang menghasilkan virus cepat menular dan daya rusaknya tinggi. Syukur sejauh ini belum menunjukkan tanda ke sana,” ujar Nidom.

Menteri Keuangan Meksiko Agustin Carstens, Ahad, mengatakan bahwa munculnya virus flu babi dapat mengakibatkan dampak besar bagi perekonomian Mexico, sekalipun masih terlalu dini untuk menyebutkan seberapa besar dampak yang ditimbulkan. “Hal ini dapat memberikan dampak penting pada perekonomian, sekalipun dampak yang paling penting adalah pada kehidupan manusia serta kelangsungannya,” kata Menteri Keuangan Agustin Carstens kepada wartawan seperti diberitakan Reuters. “Pada tahap ini, tanpa mengabaikan bahwa ini adalah masalah yang sangat serius dan bahwa ini memiliki potensi besar untuk menimbulkan kekacauan, saya akan mengatakan bahwa masih dini untuk memberikan opini yang nyata,” katanya.

Meksiko Lumpuh

Akibat wabah flu babi, gedung pemerintah di Meksiko ditutup, sementara ratusan acara dibatalkan.  Sekolah di dalam dan sekitar kota Meksiko ditutup hingga tanggal 6 Mei, dan sekitar 70% bar dan restoran di ibukota ini juga tutup untuk sementara.

Menteri Kesehatan Meksiko, Jose Cordova, mengatakan sejak tanggal 13 April sebanyak 1.324 orang masuk rumah sakit dengan gejala flu dan diperiksa untuk memastikan serangan flu babi ini.  "Dalam periode yang sama, 81 orang meninggal kemungkinan karena virus ini namun hanya 20 kasus yang sudah dipastikan terjangkit flu babi," ujarnya.

Keadaan tersebut membuat WHO, bersiap mengambil langkah darurat untuk mengatasi penyebaran penyakit flu babi jenis baru di Meksiko. Presiden Meksiko Felipe Calderon mengumumkan sejumlah langkah darurat untuk mengatasi masalah ini antara lain mengisolasi warga yang diduga terjangkit virus tersebut tanpa ada konsekuensi hukum

Dampak terhadap Bursa Dunia

Carstens berbicara dalam sebuah taklimat setelah melakukan pertemuan dengan Komite Bersama IMF dan Bank Dunia. Merebaknya virus flu babi menekan perdagangan saham di Wall Street, Senin (27/4) waktu setempat, sehingga berakhir di zona merah. Indeks Dow Jones Industrial Average yang sempat pulih akhirnya melemah 51,29 poin atau 0,6 persen pada 8.025,00 setelah ada berita jumlah kematian akibat flu babi di Meksiko bertambah menjadi 150 orang dari 100 orang. Sementara itu, indeks Standard & Poor’s 500 juga turun 8,72 poin (1 persen) ke posisi 857,51 dan indeks komposit Nasdaq berkurang 14,88 poin (0,9 persen) menjadi 1.679,41.

Ryan Larson, Senior Equity Trader Voyageur Asset Management, mengatakan, kasus flu babi ini menjadi wild card bagi pasar. “Masih sedikit terlalu awal untuk masuk ke mode panik, tetapi tentu saja hal ini harus mendapatkan perhatian dengan saksama,” kata Larson.

Disisi lain, saham maskapai penerbangan dan perusahaan travel terpuruk paling dalam akibat flu babi ini. Komisi Kesehatan Uni Eropa telah memberikan anjuran larangan untuk tidak pergi ke Meksiko dan Amerika Serikat. Dengan wabah yang menyebar dari Meksiko ke AS dan Kanada, saham perusahaan penerbangan Cathay Pacific di Hongkong turun 8% pada perdagangan. Saham perusahaan penerbangan lain wilayah Asia juga turun, seperti Japan Airlines melemah 4,5%.  Di Hongkong, Indeks Hang Seng turun 2,7%, atau 416 poin, pada 14.843 dalam perdagangan siang.  Sementara, indeks Nikkei di Jepang berakhir turun 0,4%, atau 32 poin, menjadi 8.676.45. Indeks utama Australia ditutup melemah 0,3%, dengan saham Qantas Airlines turun 3,5%.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terseret sentimen negatif merebaknya virus flu babi yang melemahkan bursa regional. Sentimen lainnya adalah prediksi IMF tentang pertumbuhan ekonomi dunia lebih rendah dari asumsi semula.

Pada perdagangan saham Senin (27/4) IHSG ditutup turun 15,255 poin (0,96%) menjadi 1.576,081. Indeks LQ45 turun 1,20% ke level 310.42 dan indeks JII melemah 0,91% menjadi 255,55. Di awal perdagangan, IHSG dibuka melemah 0,05% di level 1.590 dan terus merosot hingga sesi siang berada di posisi 1.588. Aksi ambil untung terus melanda pasar, seiring pelemahan bursa regional. Alhasil IHSG terpaksa berakhir di level 1.576.

Bursa saham Indonesia terpantau bergerak fluktuatif cenderung flat, seiring tertekannya bursa regional menyusul merebaknya flu babi. Ancaman virus yang diperkirakan akan menjadi pandemi global, mempengaruhi kondisi bisnis secara keseluruhan seperti pariwisata dan transportasi. “Tapi ini hanya senitmen sementara saja, hanya sesaat,” kata analis BNI Securities Norico Gaman. Menurutnya, faktor utama yang mempengaruhi investor domestik saat ini sebenarnya adalah ekspektasi pertumbuhan ekonomi global versi IMF yang lebih rendah dari asumsi semula.

Meskipun lebih baik dibandingkan regional, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi hanya berada di bawah level 3%. “Perkiraan IMF ini menjadi tolok ukur bagaimana pertumbuhan ekonomi domestik di 2009,” imbuhnya.

Oleh karena itu, investor saat ini sedang menunggu realisasi pemerintah atas beberapa stimulus ekonominya demi menggerakkan sektor riil. Selain itu juga mencermati kebijakan pro pasar serta upaya meningkatkan daya beli masyarakat, mengingat Indonesia tidak lagi bergantung pada ekspor.

Sektor infrastruktur memimpin penurunan bursa dengan melemah 2,05%, disusul aneka industri yang turun 1,84%, perkebunan 1,8%, dan keuangan 1,52%. Namun, masih ada tiga sektor yang berhasil menguat, yaitu pertambangan, perdagangan dan industri dasar. Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia mencatat nilai transaksi Rp 2,39 triliun dengan frekuensi 66.781 kali. Sebanyak 59 saham menguat, 102 melemah, 51 ditutup stagnan, serta 244 saham tidak terjadi transaksi. Emiten-emiten yang mengalami pelemahan antara lain saham PT Merck (MERK) anjlok Rp 1.000 menjadi Rp 46.500, PT Astra International (ASII) terpuruk Rp 350 ke Rp 15.100, PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp 300 ke Rp 13.700, PT London Sumatra (LSIP) merosot Rp 250 menjadi Rp 4.700 dan PT Indosat (ISAT) turun Rp 200 menjadi Rp 5.000. Demikian pula saham PT Bank Central Asia (BBCA) terkoreksi Rp 125 menjadi Rp 3.275, PT Bank Danamon (BDMN) melemah Rp 100 di posisi Rp 2.575, PT Timah (TINS) turun Rp 30 ke level Rp 1.290, dan PT Bank Negara Indonesia (BBNI) ditutup terkoreksi Rp 10 di posisi Rp 1.040. Sementara beberapa emiten yang mengalami kenaikan antara lain PT Adira Dinamika Multi Finance (ADMF) menguat Rp 275 menjadi Rp 3.200, PT Excelcomindo (EXCL) terangkat Rp 150 ke Rp 1.350, PT International Nickel (INCO) naik Rp 125 ke Rp 3.025, PT Indocement (INTP) terdongkrak Rp 100 ke Rp 5.100 dan PT Bukit Asam (PTBA) naik Rp 100 menjadi Rp 8.700.

Sedangkan bursa regional dan Eropa diterpa sentimen negatif akibat merebaknya flu babi. Pasar khawatir hal ini bisa memperpanjang resesi global. Produsen daging dan penerbangan memimpin penurunan saham bursa dunia atas kekhawatiran terhadap hilangnya permintaan di sektor tersebut.

Indeks Shanghai Composite di China turun 1,8% pada level 2.405,35, dan indeks Shenzhen Composite turun 3,2% ke 794,95. Demikian juga bursa saham Korea yang ditutup melemah akibat turunnya saham penerbangan. Indeks Kospi turun 14,27 poin (1,1%) di level 1.339,83. Indeks Hong Kong melemah 418,43 poin (2,74%) ke posisi 14.840,42, dan Strait Times turun 34,94 poin (1,89%) menjadi 1.817,91. Sedangkan bursa Eropa sore ini juga dibuka langsung melemah. Indeks FTSE di London turun 1,2%, indeks DAX di Frankfurt anjlok 1,9%, indeks CAC Paris terkoreksi 1,83%. Hanya bursa saham Tokyo ditutup menguat tipis dipicu saham perbankan. Indeks Nikkei naik 18,35 poin (0,2%) pada level 8.726,34 dan Topix naik 3,05 poin (0,4%) pada level 833,1.

Flu Babi Tekan Harga Minyak

Harga minyak mentah dunia merosot pada Selasa (28/4) waktu setempat karena pasar mengaitkan eskalasi internasional munculnya flu babi dapat menunda pemulihan dari krisis ekonomi global. Kontrak utama New York, minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Juni turun 22 sen menjadi ditutup pada 49,92 dollar AS per barrel.

Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Juni turun 33 sen menjadi 49,99 dollar AS per barrel. Minyak mentah berjangka  telah merosot hampir 1,50 dollar AS per barrel pada Senin, di tengah kekhawatiran bahwa krisis flu babi yang meledak di Meksiko dan telah meluas dengan cepat ke negara-negara seluruh dunia, akan menghambat permintaan energi yang telah melemah akibat krisis ekonomi terburuk dalam dekade terakhir. “Kami memiliki kekhawatiran besar tentang permintaan sebelum …. di sana ada kekhawatiran bahwa ini dapat menjadi lebih buruk,” kata Bart Melek dari BMO Capital Markets.

Krisis flu babi muncul ketika banyak ekonom dan para pejabat baru-baru ini telah menunjukkan sinyal tentatif pemulihan dari kontraksi global yang diproyeksikan IMF pada 1,3 persen pada tahun ini. “Berjangkitnya wabah ini akan memperlambat langkah pemulihan,” kata Melek. Pasar minyak telah mendapat dukungan dari pasar saham sejak awal Maret, sementara beberapa data ekonomi telah menyediakan secercah harapan bahwa kemerosotan ekonomi mulai melambat. Harga minyak, yang telah turun di bawah 35 dollar AS pada Desember, naik ke kisaran 50 dollar AS per barrel dalam pekan-pekan terakhir ini.

Namun, merebaknya krisis flu babi yang meluas ke negara-negara seluruh dunia telah menggerus kepercayaan pasar. “Ini dikhawatirkan melemahkan perjalanan udara dan arus perdagangan global,” kata analis Barclays Capital dalam sebuah catatannya.

Sejumlah negara telah mengeluakan peringatan perjalanan untuk bepergian ke Meksiko, dan maskapai penerbangan  telah terpukul oleh banyaknya pembatalan pemesanan. Asosiasai Transportasi Udara Internasional (IATA) yang mewakili sekitar 230 maskapai penerbangan telah memperingatkan para anggotanya mengkaji kembali rencana kesiapsiagaannya untuk sebuah kesehatan publik darurat. Pada  2003, wabah SAR (Severe Acute Respiratory Syndrome) telah mengirimkan industri penerbangan ke dalam sebuah kemerosotan.

Dampak terhadap Sektor Pariwisata

Merebaknya virus flu babi dikhawatirkan akan berdampak pada penurunan wisatawan asing di Yogyakarta. Pada saat merebaknya flu burung, penurunan jumlah wisatawan mencapai 20%.  "Sampai sekarang ini belum menunjukkan ada tanda-tanda mempengaruhi kunjungan wisatawan asing. Tetapi merebaknya flu babi itu dipastikan akan memengaruhi tingkat kunjungan," kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Istidjab, Kamis (30/4).

Menurunnya kunjungan wisatawan asing, ujarnya, sangat berpengaruh pada tingkat hunian hotel. Oleh karena itu flu babi akan memperburuk tingkat hunian hotel setelah terkena imbas krisis global dan Pemilu 2009.  "Potensi wisatawan asing di Yogyakarta cukup bagus. Data tahun 2008 menunjukkan jumlah wisatawan asing ke Yogyakarta mencapai 350.000 orang, dengan rangking pertama adalah wisatawan Belanda yang jumlahnya lebih dari 80.000 orang," kata Istidjab. Ia mengharapkan penanganan flu babi di Indonesia bisa berjalan dengan baik sehingga wisatawan asing tidak segan untuk datang ke Indonesia, khususnya Yogyakarta.  "Sebagai langkah antisipasi flu babi, Bandara Adisutjipto Yogyakarta memasang alat body clean dan thermo scaner. Upaya antisipasi itu dilakukan bekerja sama dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Semarang, Jawa Tengah, katanya.

Asisten Manajer Pelayanan PT Angkasa Pura I Cabang Bandara Adisutjipto Yogyakarta Hanad Prayitno mengungkapkan, petugas karantina kesehatan akan memantau flu babi tersebut di bandara.  Arus kedatangan penumpang dari luar negeri ke Yogyakarta cukup tinggi, terutama dari Singapura dan Malaysia. Dalam sehari, sedikitnya 250 penumpang hilir mudik Singapura-Yogyakarta dan Malaysia-Yogyakarta

Solusi

Sebagai upaya untuk mengatasi wabah flu babi, WHO mengaktifkan apa yang disebut sebagai shoc room, semacam pusat operasi kesehatan strategis, yang dibentuk untuk menghadapi kejadian kesehatan yang besar. Sekarang direktur jenderal WHO, Margareth Chan dan para staff lembaga PBB tersebut sedang mempertimbangkan keputusan tentang langkah-langkah yang akan diambil.  Misalnya, apakah tingkat kesiagaan perlu dinaikkan, dan perlukah WHO mengeluarkan larangan berkunjung ke Meksiko.

Hal ini perlu diputuskan secara bijaksana karena larangan berkunjung ke negara-negara Asia beberapa tahun lalu karena wabah SARS membuat sektor perdagangan dan pariwisata merugi miliaran dollar. WHO tentu tidak ingin menaikkan tingkat kesiagaan kalau itu memang tidak perlu.

Untung saja pemerintah dan aparat kesehatan negara di dunia sudah mempersiapkan diri terhadap penyebaran wabah flu burung, jadi mereka dengan cepat mampu menjawab tantangan baru flu babi. Pengembangan bahan vaksin semestinya menjadi prioritas bersama. Yang menentukan adalah, kita semua terlibat dalam perjuangan ini. Proteksionisme nasional yang dilakukan dengan ceroboh terhadap kemungkinan pandemi sama kontra produktifnya dengan pembatasan perdagangan dalam hal menghadapi resesi. Pertahanan utama kita terhadap globalisasi penyakit ini adalah kerja sama global.

Jumat, 17 April 2009

Masalah Subprime merajalela di pasaran finansial dunia…
Masalah sub-prime yang saat ini sedang hangat terjadi di Amerika Serikat telah mempengaruhi pasar finansial dunia, termasuk Indonesia, berasal dari pemberian kredit rumah kepada pihak-pihak yang memiliki tingkat creditworthy rendah.

Melacak asal muasal subprime…
  1. Pembeli rumah, atau calon pembeli, dengan tingkat creditworthy rendahmembayar cicilan rumah mereka dengan suku bunga yang lebih tinggi (biasanya sekitar 2% lebih tinggi) dari tingkat suku bunga yang bank kenakan pada konsumen dengan tingkat creditworthy yang baik.
  2. 2. Makelar, yang kebanyakan berbasis di California, adalah perantara utama dari hubungan partnership antara pemberi kredit subprime dan pasar finansial Wall Street di Amerika. Mereka mempunyai andil sebesar kurang lebih 70% dari seluruh permulaan transaksi tersebut.
  3. Pemberi kredit/pinjaman memikat konsumen, yang biasanya sulit mendapatkan pinjaman dari bank, dengan persyaratan pinjaman yang mudah, seperti tidak diperlukannya bukti-bukti penghasilan atau simpanan si pelamar kredit subprime tersebut. Sebesar US$805 milyar tercatat sebagai total jumlah uang gadai subprime pada tahun 2005.
  4.  Bank-bank besar membeli kredit subprime tersebut lalu menata ulang surat hutang tersebut dan kemudian menjualnya kepada para investor di Wall Street. Bank-bank besar yang memberi pinjaman tersebut, seperti contohnya HSBC Holdings, terkena imbas negatif dari masalah subprime tersebut.
  5. Bank-bank di Wall Street tersebut kemudian menjualnya sebagai sekuritas berbasis hipotek dan kewajiban hutang yang dijamin (collateralized debt obligations, CDOs). Penjualan dari kedua instrumen finansial tersebut membumbung sampai mencapai 2.4 trilyun dollar pada tahun 2006.
  6. Sewaktu bank membuat CDO tersebut, mereka terlebih dahulu bertemu dengan pemberi nilai kredit (credit rating agency) untuk berdiskusi guna menentukan kualitas dari CDO tersebut, dimana komponen pinjaman berbasis subprime terdapat di dalamnya. Untuk mendapatkan nilai (rating) yang lebih baik, mereka membagi CDO tersebut menjadi beberapa bagian yang lebih kecil sebelum menjualnya pada para investor di pasar finansial dunia. 
  7. CDO itu sendiri terdiri dari campuran antara surat hutang (bond) dan sekuritas berbasis hipotek dan juga pinjaman kredit perumahan. Pada tahun 2006, perkiraan menunjukkan bahwa sejumlah 100 milyar dollar hutang berbasis subprime dimasukkan sebagai bagian dari CDO yang berjumlah 375 milyar dollar dan dijual di Amerika Serikat.
  8. Para investor sangat menyukai CDO karena mereka menawarkan potensi hasil keuntungan yang sangat tinggi dibandingkan dengan surat hutang (bond) pada umumnya dengan nilai kredit (credit rating) yang sama. Bank-bank, perusahaan asuransi, dan juga dana pensiun adalah beberapa pelaku pasar yang ikut membeli CDO tersebut yang menjanjikan imbal hasil (yield) sampai setinggi 20%.
Treasury & Strategy Research 2
September 2007 Liputan Khusus Pasar Finansial Global
Banyak “uang
mudah” pada saat
itu…
3 penyebab utama
kredit bermasalah berbasis subprime…
Apa sih yang sebenarnya menjadi penyebab utama dari krisis di pasar kredit yang marak dibicarakan para pelaku pasar finansial sekarang ini…
  • Yang pertama-tama, tentunya adalah tingginya likuiditas sebelum terjadinya krisis tersebut. Terlalu banyak “uang mudah” (baca: murah dan mudah untuk meminjam dan meminjamkan uang di pasar finansial dunia saat itu) dalam jumlah yang sangat besar yang mengejar asset berkualitas tinggi yang tentunya sangat terbatas. Hal ini semakin menjadi-jadi dikarenakan oleh semakin dipermudahnya persyaratan untuk mendapat kualitas kredit yang baik.
  • Para pelaku pasar dan investor kemudian menjadi sangat haus untuk mendapatkan imbal hasil (yield) yang lebih tinggi dikarenakan oleh rendahnya credit spread yang ada pada saat itu. Untuk mendapatkannya, mereka menaruh investasi mereka pada tingkat resiko yang lebih tinggi (tentunya tinggi resiko, tinggi pula harapan keuntungan!) atau dengan cara melakukan lebih banyak pengungkitan (leverage).
  • Hal ini ditambah dengan semakin canggihnya inovasi di sektor finansial seperti adanya instrumen CDO dsb. Maka terjadilah permintaan dan penawaran dalam pasar finansial berdasarkan keadaan yang telah kami jelaskan sebelumnya.
Namun, hal diatas itu hanya awal permulaan…
  • Masalah yang sebenarnya bermula dari ketidak-mampuan dari para peminjam uang untuk kredit perumahan dengan latar belakang kredit yang kurang sehat (subprime borrowers). Hal ini mungkin disebabkan oleh karena kehilangan pekerjaan, adanya nilai suku bunga yang disesuaikan (yang tentunya menjadi lebih tinggi), dan juga penyakit parah yang diderita para peminjam kredit rumah ini yang tentunya memerlukan biaya pengobatan yang cukup tinggi.
  • Hal kedua yang mungkin menyebabkan adanya ketidak-mampuan pembayaran cicilan tersebut adalah adanya penyesuaian dari suku bunga pinjaman setelah cicilan berjalan selama 2-3 tahun. Seperti produk konsumen pada umumnya, tentunya dalam menawarkan pinjaman subprime tersebut, suku bunga yang ditawarkan pada beberapa tahun pertama dalam cicilan tentu saja sangat menarik.
  • Yang terakhir namun tidak kalah pentingnya adalah turunnya standar kualitas dalam produk kredit tersebut dan juga kurangnya pengawasan dan aturan main dalam hal peminjaman kredit hipotek rumah berbasis subprime.
Korban-korban pun mulai berjatuhan…
  • Setelah pasar menyadari begitu kurangnya likuiditas yang ada di pasar, mereka mulai merasa panic dan ingin cepat-cepat menarik dana investasi mereka dimanapun mereka memarkirnya. Pihak-pihak yang menjadi korban kerugian dari permasalahan subprime di Amerika dan krisis kredit dapat dibedakan menjadi 2 yaitu 
  1. Investor dan Makelar 
  2. Perusahaan penstruktur kredit (structured credit vehicles) Pemberi kredit hipotek, seperti New Century dan HSBC Holding Plc Dana pasar uang Bank yang melakukan struktur produk tersebut Bank Penjamin CDO Perusahaan asuransi Perusahaan penilai kredit (credit rating agency) Dan a cegah resiko
Treasury & Strategy Research 3
September 2007 Liputan Khusus Pasar Finansial Global
Beberapa bank sentral di dunia pun mengambil tindakan…
Perusahaan penilai kredit (credit rating agency) pun ikut sibuk…

  • Tampaknya permasalahan subprime tersebut hanya merupakan permulaan dari guncangan yang lebih besar di pasar finansial global. Hal tersebut kemudian berlanjut dengan bangkrutnya 2 hedge funds dari Bear Sterns yang berspesialisasi dalam kredit berstruktur. Lalu, pada tanggal 10 Agustus, BNP Paribas membekukan sementara penebusan dana dari 3 produk struktur bernilai 1.6 milyar euro yang dikeluarkannya dengan alasan “mengeringnya likuiditas.”
  • Selanjutnya banyak bank-bank sentral utama di dunia memberikan suntikan likuiditas untuk menenangkan pasar, diantaranya bank sentral eropa (ECB) menyuntik 95 milyar euro sebagai respon kewaspadaan mereka karena tingkat suku bunga overnight naik dengan tajam, sementara itu bank sentral Amerika, US Fed Reserve, memberikan “tambahan” likuiditas sebesar 24 milyar dollar melalui 2 repo (repurchase agreement).
  • Merrill Lynch memperkirakan total kredit berbasis subprime sebesar 1.3 triliun dollar dengan default-related loss berkisar antara 120-170 milyar dollar (kurang lebih 15%). Kerugian yang terasosiasikan dengan masalah kredit berbasis subprime ini terbagi-bagi atas beberapa lapis tingkat kredit (credit ratings).
Reaksi pihak terkait dan bank sentral…
  • Pada tanggal 10 Juli 2007, institusi penilai kredit ternama dunia, S&P Credit Ratings Agency, menaruh 612 subprime residential mortgage-backed securities (S-RMBs, sekuritas yang berbasis kredit subprime untuk perumahan) dalam kategori “waspada negatif” (34% dari seluruh subprime yang dinilai S&P pada tahun 2006). Beberapa jam kemudian, institusi sejenis ternama dunia lainnya, Moodys, menaruh 399 sekuritas berbasis subprime dalam kategori yang mengkhawatirkan tersebut.
  • Selanjutnya, tanggal 12 Juli 2007, S&P menurunkan peringkat kredit berbasis subprime tersebut sebanyak 90% dari 612 sekuritas yang termasuk dalam kondisi “negatif.” Moodys kemudian menaruh 184 ABS CDO (Asset-backed securities collateralized debt obligations) dalam kategori “waspada negatif.” Fitch juga melakukan hal yang sama terhadap 170 S-RMBs.
Sumber: Morgan Stanley
Treasury & Strategy Research 4
September 2007 Liputan Khusus Pasar Finansial Global
Bank Indonesia pun merespon…
Berawalnya masalah kredit ini belum terlalu lama...
  • Hari Jumat tanggal 17 Agustus 2007, Federal Reserve tanpa diduga menurunkan suku bunga diskonto mereka sebesar 50 basis poin menjadi 5.75%. Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika masih berkisar pada level 9,400-9,500 dengan adanya sedikit sentimen yang positif dari Federal Reserve Amerika tersebut. Suku bunga tersebut adalah tingkat suku bunga dimana Fed meminjamkan loans secara langsung kepada bank-bank. Suku bunga yang paling dicermati pasar, benchmark federal funds rate, tetap tidak berubah pada level 5.25%.
  • Namun kekhawatiran yang masih ada di benak investor sekarang adalah apakah ada “selera” untuk menaruh kembali portfolio aset mereka di pasar berkembang (emerging markets) seperti Indonesia. Dari sisi domestik, kami berpendapat bahwa Bank Indonesia sepertinya akan terus waspada terhadap pergerakkan rupiah dan “siap” melakukan intervensi bilamana rupiah terdepresiasi (terhadap dollar Amerika) terlalu cepat dari yang diharapkan. Hal ini juga sudah terlihat dari tetapnya suku bunga patokan BI pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada hari ini (6 September 2007) di level 8.25%, dimana mereka mengatakan bahwa guncangan yang terjadi di pasar finansial global (yang juga merambat ke pasar finansial domestik) saat ini mempunyai resiko terhadap angka inflasi Indonesia. Kami berpendapat bahwa resiko terhadap inflasi yang dapat membumbung tinggi kembali dikarenakan oleh adanya kemungkinan melemahnya rupiah lebih jauh.
Berikut ini adalah bagan kronologi yang menyangkut krisis kredit dan likuiditas yang terjadi sampai dengan belakangan ini.
Sumber: Societe Generale
Treasury & Strategy Research 5
September 2007 Liputan Khusus Pasar Finansial Global
Kekhawatiran yang ada…
Melihat kedepan…menilai apa yang mungkin terjadi…
  • Sejauh ini, yang kami pandang sangat mengkhawatirkan adalah karena sangat kurangnya informasi tentang siapa saja yang memiliki portfolio CDO dan kredit berbasis subprime tersebut. Hal ini tentunya membuat investor tidak ingin menempatkan dana mereka dimanapun, atau paling tidak mereka hanya akan menaruhnya di tempat yang paling aman seperti surat obligasi pemerintah yang kurang lebih bisa disebut “bebas resiko.”
  • Yang kedua, pasar tidak mengetahui dengan pasti berapa besar kerugian dari setiap pemegang CDO bermasalah tersebut dan juga total keseluruhannya.
  • Hal ini diperburuk dengan mengeringnya likuiditas di pasar di saat dimana mungkin banyak usaha-usaha yang punya potensi tinggi yang benar-benar membutuhkan dana pinjaman untuk melakukan ekspansi. Keringnya likuiditas ini disebabkan oleh kenyataan bahwa aset-aset yang menjadi basis atau dasar dari CDO tersebut sifatnya illiquid dan jika mereka terpaksa harus dilikuidasi, maka akan terjadi kerugian besar-besaran di Amerika yang tentunya akan menyebar ke seluruh bagian dunia. Ini hal ketiga yang sama mengkhawatirkannya.
  • Keempat, tentunya investor akan sangat enggan untuk menaruh dana investasi yang mereka miliki di aset-aset tertentu yang mungkin tidak begitu beresiko tinggi namun punya return yang cukup tinggi karena keadaan pasar yang begitu tidak stabil dan berubah-ubah. Hal ini sama sekali tidak membantu menyelesaikan masalah pengeringan likuiditas.
  • Yang terakhir, kami juga tidak dapat memastikan kenyataan bahwa “penularan penyakit” dari CDO ini ke sektor-sektor pasar finansial lain seperti bursa saham, valuta asing, dan juga aset-aset negara-negara berkembang tidak akan terjadi. Hal ini bahkan sangat mungkin, atau bahkan sudah, terjadi dengan performa dari bursa saham di dunia yang bergerak naik-turun dalam jangka waktu yang demikian singkatnya tanpa arah dan sentimen yang jelas.
  • Sebagai konklusi, mari kita lihat ke depan dan menilai apa yang mungkin terjadi selanjutnya pada tabel berikut ini.
Treasury & Strategy Research 6
September 2007 Liputan Khusus Pasar Finansial Global
Skenario yang mungkin terjadi :
Jatuhnya Pasar Kredit Secara Total (probabilita 30-45%)
Hancurnya Pasar Kredit secara keseluruhan,  banyak dana yang tidak bisa ditarik. Harga-harga saham akan jatuh secara tajam atau menagalami koreksi besar-besaran. Pertumbuhan ekonomi baik yang sifatnya regional, nasional, maupun global, akan terhambat atau lebih parahnya lagi mengalami pertumbuhan yang minus (resesi).